Mengintai Semula Jejak Lalu – 3

Apakah jalan dan kerja yang kita lalui sekarang bertepatan dengan pelajaran lalu atau kah ia tiada kaitan dengan sejarah dulu? Banyak usaha menelaah telah berlaku namun banyak waktu juga telaah itu tidak membumi atau tidak pula dimanfaatkan. Ini adalah masalah klasik yang terkait kumpulan yang mengapikan cita – cita dengan kumpulan yang mengerjakan cita – cita. Antara mereka tiada jambatan.

 

Dalam mengejar cita-cita terbesar seorang mu’min, tidak dapat tidak ia perlu bersentuh terus dengan manusia dan berhubung terus dengan redha Allah. Wahyu yang turun berinteraksi terus dengan kondisi semasa individu dan masyarakat. Apa yang tidak diambil perhatian oleh banyak orang adalah asas yang dibentuk serta interaksi wahyu dan manusia itu sebenarnya menjadi kekuatan membangun sebuah tamadun.

Dalam derap langkah laju globalisasi, banyak kelompok yang melupakan dan mengabaikan membangun manusia yang terikat dengan Allah. Kemajuan dan pengstrukturan sosial disusun mengikut neraca humanis hingga batas-batas ditentu ukur oleh apa yang manusia mahukan.

Akhirnya kelompongan ini mewujudkan satu jurang yang amat besar saat menyatukan antara redha Allah dan kehendak manusia pada saat semuanya seolah sudah “maju”. Ini adalah sakit yang kita sedang hadapi, rawatannya masih tidak ditemu jumpa, bukan formulanya, tetapi bagaimana memasukkan ubat ke tempat yang sakit itu.

Saat penurunan wahyu, interaksi Quran dan Sunnah dengan manusia berlaku pada segenap lapisan, sesuai dengan arus kehidupan ketika itu. Di situ tidak wujud turutan khusus tentang permasalahan dan isu semasa yang ia rawati. Populasi sedia ada sudah pun melebihi 10,000 orang. Mustahil interaksi dan bimbingan wahyu itu disusun mengikut fisiologi dan struktur akal manusia. Ia adalah tidak praktikal dan bertentangan dengan tabiat islam yang hidup dan menyempurnakan. Bukan sekadar berbahas.

Uniknya pada kandungan wahyu adalah ia melayani hakikat-hakikat atau ‘roots’ yang sebenar yang mempengaruhi keputusan manusia. Penyusunan rohani dan struktur akal oleh wahyu ini menghampiri manusia pada cara kerjanya dan pada cara fikirnya. Skop dan ruang interaksi itu adalah membekas dan menjadikan suatu tabiat tetap pada manusia yang kemudiannya kita lazimi dengan panggilan mu’min.

Adapun era Khulafa’ Ar-Rasyidin telah memberikan kita hikmah yang besar dan luas bagi memahami aplikasi dan ruang ijtihad bagi menyantuni kehendak manusia dan memenuhi kehendak Allah. Satu yang merugikan apabila ia tidak mampu mencedok pengajaran dan panduan dari Al-Quran, hadith dan sirah dalma mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

matches.jpg

Dan apa yang kritikal saat ini, adalah bukan tandusnya kita dari ilmu dan pengalaman, tetapi kehausan akal yang siap melihat, mencerna, menyusun dan membentangkan pelan perubahan bagi umat ini sesuai dengan keperluan semasa, tanpa meninggalkan prinsip-prinsip utama agama seperti yang telah dibentangkan oleh Quran, hadith dan ijtihad para ulama selepas kewafatan Nabi s.a.w.

Tajdid. Bukan sekadar minda. Tetapi keseluruhan jalan pembangunan umat islam. Supaya api keimanan dapat dinyalakan semula.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s